Selasa, 28 Juni 2011

Habib Muhammad bin Taufiq bin Syahab

Menghidupkan Hati yang telah Mati

“Hadir di majelis ilmu bisa menghidupkan hati yang telah mati, sebagaimana Allah SWT menghidupkan tanah yang telah tandus dengan air hujan,” ujarnya.

Habib Muhammad Syahab dikenal dengan majelis ta’limnya, Al-Anwar. Habib Syahab sangat menekankan kepada murid-muridnya untuk selalu menjaga adab, memperbagus akhlaq, dan tidak menyakiti sesama. Oleh karena itu, majelis ta’lim yang dirintis sejak kepulangannya dari Hadhramaut pada 2005 yang lalu itu kini semakin dikenal luas oleh khalayak.


Di samping karena ajaran yang disampaikannya, itu semua juga tidak terlepas dari pribadi Habib Muhammad Syahab, yang lemah lembut, santun, dan cepat akrab dengan siapa saja. Semua itu menurutnya adalah hasil dari gemblengan guru-gurunya yang sangat ia hormati dan menjadi inspirasi langkah-langkahnya dalam meretas masa depan.


Hasil Gemblengan Tokoh-tokoh Besar


Habib Muhammad Syahab lahir di Palembang, 31 tahun yang lalu. Ia bertekad untuk mewakafkan dirinya berdakwah di jalan Allah. “Saya memulai dari nol.... Saya tidak punya apa-apa, hanya niat yang tulus ingin berjuang di jalan Allah,” tuturnya.


Selesai sekolah dasar di Palembang, ia langsung berguru kepada Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri selama sepuluh tahun. Menurutnya, Walid, demikian Habib Abdurrahman Assegaf akrab disapa, banyak sekali memberikan bimbingan dan teladan yang luar biasa kepada murid-muridnya. “Walid itu tokoh besar..., dan saya sungguh beruntung bisa belajar di bawah asuhannya,” ujar Habib Syahab mengenang.


Setelah sepuluh tahun berguru dan berbakti kepada Habib Abdurrahman Assegaf, ia pun mohon restu untuk melanjutkan menuntut ilmu ke Hadhramaut. “Tapi saat itu Walid tidak mengizinkan, saya masih diperlukan. Sebagai murid yang patuh, saya pun taat kepada guru, karena itu termasuk adab. Saya yakin, pasti ada berkahnya.”


Keyakinan Habib Syahab terbukti. Setahun kemudian Habib Umar Bin Hafidz datang ke Indonesia dan minta kepada Walid beberapa orang muridnya untuk diajak ke Darul Musthafa.


Kali itu Walid tidak bisa mengelak. Maka dipilihlah beberapa orang, dan Habib Syahab termasuk yang terpilih.


“Alhamdulillah, ini berkah ketaatan kepada guru. Saya pun berangkat ke Hadhramaut pada tahun 2000 dan belajar di sana sampai 2005,” ujarnya.


“Masa di Darul Musthafa merupakan masa yang sangat menentukan bagi saya membangun komitmen keilmuan dan pengabdian. Kami dibimbing oleh tokoh besar yang benar-benar pantas dijadikan teladan. Dengan murid-murid dari seluruh dunia, suasana di sana sungguh sangat kondusif untuk menuntut ilmu.


Waktu diatur sangat ketat, kami hanya punya waktu istirahat empat jam, selebihnya adalah untuk menuntut ilmu.... Begitu terus selama lima tahun. Sungguh luar biasa,” tutur Habib Muhammad Syahab mengenang almamaternya, Darul Musthafa.


Ilmu pengetahuan tidak hanya dituntutnya di Darul Musthafa. Ketika ada waktu sela, semua santri dianjurkan untuk menuntut ilmu kepada guru-guru yang ada di luar pesantren. Habib Muhammad Syahab pun mendapatkan ijazah dari beberapa orang guru besar, seperti dari Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim Bin Hafidz dan ‘Aynut Tharim Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Syahab.


Mengoptimalkan Teknologi Informasi

Sesampai di Indonesia, Habib Muhammad Syahab mulai menjalani risalah dakwah. Menurutnya semua itu bermula dari yang sederhana tapi harus disikapi dengan istiqamah. “Berkah atau tidaknya sebuah majelis dapat kita lihat dari manfaat yang didapatkan oleh masyarakat. Semakin lama kehadirannya semakin dibutuhkan oleh masyarakat dan terus memberikan kebaikan yang tiada henti,” ujarnya tentang majelis ta’lim.


Majelis ta’limnya, yakni Al-Anwar, diberi nama dan diresmikan oleh Habib Umar Bin Hafidz, guru dan teladannya.


Sejak Senin malam Selasa 21 Februari 2006, mulailah Majelis Ta’lim Al-Anwar mengisi kebutuhan ruhani masyarakat kota Jakarta dan sekitarnya. Bermula dari yang sederhana tapi ditekuni, kini majelis ta’lim yang didirikannya dirasa mulai dibutuhkan banyak orang.


Habib Muhammad Syahab berharap, mudah-mudahan majelis ini bisa menambah syiar agama Allah SWT, meyebarkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, tidak keluar dari ajaran salafush shalih, dan selalu mendapat ridha dari Allah SWT dan Rasul-Nya, hingga bermafaat buat umat.


“Betapa pentingnya keberadaan majelis-majelis yang mengajarkan ilmu Allah SWT. Tidak selayaknya bagi manusia jauh dari ilmu Allah SWT. Ilmu agama adalah hal yang terpenting di dalam kehidupan manusia. Para anbiya (nabi) tidak mewariskan harta, mereka mewariskan ilmu. Ilmu menerangi hati dari kegelapan. Hadir di majelis ilmu bisa menghidupkan hati yang telah mati, sebagaimana Allah SWT menghidupkan tanah yang telah tandus dengan air hujan,” ujarnya menjelaskan.


Rentang dakwah Habib muda yang masih lajang ini dari waktu ke waktu kian panjang, seiring dengan semakin dikenalnya Majelis Ta’lim Al-Anwar. Tugas-tugas dan panggilan dakwah mulai mengalir, terutama dari Indonesia Timur. Maka ia pun keluar masuk Papua untuk mengemban risalah dakwah. Begitu pula Kalimantan, Makassar, dan berbagai kota besar di Indonesia.


Kini muhibbin pun bisa mendapatkan ilmu dan taushiyahnya dari situs majelis yang beralamat di www.majelisalanwar.com. Berbagai ragam kiprah dakwah dan pengetahuan bisa diakses di sana. Dakwah zaman sekarang memang harus juga mengoptimalkan teknologi informasi.


Dua Permata yang Sangat Berharga


Habib Muhammad Syabah mengingatkan kaum muslimin tentang betapa pentingnya ilmu dan ibadah. Ia menyitir ucapan Imam Al-Ghazali, yang intinya, ilmu dan ibadah adalah dua permata yang sangat berharga. Karena keduanya kita bisa mendengar ucapan orang-orang shalih, membaca kitab mereka, mengetahui ajaran mereka, mendengar nasihat mereka. Bahkan dengan sebab ilmu dan ibadah diturunkanlah kitab-kitab Allah dan diutus para rasul Allah.


Tentang ibadah, bahkan ditegaskan oleh Allah SWT dalam surah Adz-Dzaariyat ayat 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”


Menurut Habib Syahab, tidak bisa seseorang hanya belajar tapi tidak beribadah, dan sebaliknya tidak bisa hanya beribadah tanpa ilmu. “Belajar ilmu itu hukumnya wajib. Ilmu itu diibaratkan pohon, sedangkan ibadah adalah buahnya,” ujarnya.


Menurut Habib yang tinggal di Jalan Eretan II No. 62 B Condet ini, seorang hamba diharapkan mempunyai empat hal penting dalam dirinya.


Pertama, berilmu agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kedua, mengamalkan ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari.


Ketiga, ikhlas. Semua yang dilakukan haruslah karena Allah, mencari ridha Allah, sehingga semuanya sesuai dengan ketentuan-Nya.


Dan yang keempat, punya rasa takut kepada Allah SWT. Dengan takut kepada Allah SWT, ia tidak akan mudah melanggar apa yang dilarang Allah. Dalam artian yang lebih luas, ia takut kalau tidak dapat tempat yang baik di sisi Allah SWT.


“Di antara ibadah yang agung dan utama adalah menuntut ilmu syar’i, yaitu firman-firman Allah dan sabda rasul-rasul-Nya. Menuntut ilmu adalah amalan pendekatan diri kepada Allah yang paling utama yang seorang hamba dapat mendekatkan diri dengan amalan tersebut kepada Tuhannya, dan termasuk ketaatan yang paling baik yang akan mengangkat kedudukan seorang muslim dan meninggikan derjatnya di sisi Allah SWT.”


Habib Muhammad Syahab mengingatkan, “Penting bagi seorang muslim untuk selalu tafakur, memikirkan ayat-ayat Allah SWT, baik yang syar’iyyah, yaitu Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW, maupun ayat-ayat-Nya yang kauniyyah, yaitu alam semesta, yang terhampar luas. Lalu tadabbur, memikirkan akibat-akibat dari amalan yang dikerjakannya dan mengingatkan akibat-akibat dari kebodohan.”


Menurutnya, buah dari itu semua tercermin dari akhlaq seseorang. Karena itulah keutamaan seorang yang bertaqwa. Akhlaqnya, adabnya sangat luhur. Tidak ada perbuatannya yang menyimpang. Semua orang merasakan manfaat keberadaannya. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesama.”


Habib Syahab juga menasihati, apa yang terjadi pada manusia, lingkungan, dan negara, seperti bencana alam, berupa gempa, banjir, tanah longsor, dan sebagainya, haruslah diterima dengan prasangka baik. Itulah adab seorang muslim. “Bencana adalah refleksi dari kasih sayang Allah SWT untuk ciptaan-Nya, jadi jangan dianggap itu sebagai kutukan. Allah SWT memberikan pelajaran dengan cara yang terbaik, kita harus ridha dan selalu berprangka baik,” ujarnya menutup pembicaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar